Mengapresiasi
film, bagi sebagian orang, dianggap lebih sulit ketimbang mengapresiasi novel
atau karya lain yang berbentuk tulisan. Itu di karenakan film adalah media yang
berbentuk audio visual yang mengandung banyak sekali unsur suara maupun gambar.
a. presiasi Versus
Kritik Film
Secara tegas, Marselli menegaskan
perbedaan antara apresiasi film dengan kritik film. Apresiasi film menurutnya
adalah sebuah bentuk ungkapan penghargaan terhadap seuah karya film. Sehingga
siapapun yang mempunyai keinginan untuk memperoleh sebuah kenikmatan dari
menonton film dianggap sudah mempunyai niat baik untuk mengapresiasinya.
Sementara itu, mengkrtik film dianggapnya
hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mempunyai spesialisasi di bidang
kritik film itu sendiri. Analisis yang digunakan untuk mengkritisi film ini
tentu saja tidak akan bisa menjelaskan secara detil segala sesuatunya baik yang
berwujud gambar,suara maupun interprestasi atas keduanya dari sebuah karya fim.
Dalam dunia realita, tidak ada jawaban ataupun penilaian yang final atas film.
Sebagia sebuah karya seni yang dihasilkan oleh sebuah tim serta diproduksi
dalam serangkaian tahapan, film tidak akan bisa dianalisis secara penuh.
b.
Mengkritisi Film
Dalam memberikan penilaian yang
utuh terhadap film yang dianggap sebagai sebuah proses untuk mengritisi film,
Marselli60 mengemukakan sebuah pendekatan yang mendasar yang
melihat , menganalisis dalam sebuah prosedur pendekatan film demi penilaian. Metode
analisis yang dilakukan oleh kritikus ini seperti yang dicontohkan diatas
dilakukan dengan melihat,menganalisis dan mengevaluasi yang berakhir dengan
sebuah penilaian atas film tersebut secara utuh.
c.
Mengapresiasi Film
Dalam hubungannya dengan film sebagai salah satu
bentuk media audio visual, mengapresiasi sebuah film mengandung sejumlah
pengertian yaitu memahami, menikmati, dan mengahargai. Tiga kata ini merupakan
kata yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Hak ini
dikarenakan dalam menikmati film, sangat jelas bahwa orang tidak
bisa begitu saja menikmati karya film sebelum ia memahami dan merasakan apa yang
tersurat maupun tersirat dalam film yang kaya akan makna itu.
Nilai artistik sebuah film terwujud jika ditemukan pada seluruh unsurnya.
Dan biasanya nilai artistic ini seringkali tidak sejalan dengan nilai rasional.
Karena artistic terkadang tak bisa dimaknakan begitu saja.
d. Tahapan Mengapresiasi Film
1. Pemahaman, Di dalam tahapan
ini, penonton berusaha melibatkan emosi dan pikirannya untuk memahami ide
cerita yang aada di dalam sebuah film
2. Penikmatan, tahap kedua
apresiasi film adalah saat penonton berusaha memahami dan menghargai behind
the scene dari sebuah film.
3. Pengahargaan, tahap penghargaan
ini ini terjadi ketika penonton membuat relasi antara pengalaman yang menjadi
ilusi realitas dalam film dengan pengalaman kehidupan yang real yang
dihadapinya.
e.
Hambatan Dalam Mengapresiasi Film
Dalam mengapresiasi film biasanya muncul beberapa hambatan yang menghalangi
penonton untuk melakukan apresiasi, di antaranya adalah:
1. Adanya kecenderung
untuk memilih jenis film tertentu.
2. Terlalu merespon
salah satu bagian dari sebuah film dan kurang memperhatikan secara seksama
bagian yang lain sehingga tidak bisa mengapresiasi film secara utuh.
3. Adanya overestimate
terhadap film sebelum melhat film terkadang membuat penonton malah menjadi
kecewa ketika yang diharapkan tidak muncul.
4. Kondisi psikologis saat penonton seperti ketika sedang
sedih atau terlampau gembira terkadang juga mempengaruhi mood penonton dan
mengapresiasi film.
5. Adanya gangguan
dari luar diri penonton yang sringkali bersifat teknis seperti tata suara
bioskop yang kurang prima, penonton lain yang ribut ataupun proyektor yang
tidak bisa menyajikan gambar dengan mutu yang bagus tentu sajajuga akan
mempengaruhi apresiasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar